Komunitas Rumpun Papua Melaunching Buku Perdana di UNIPA Manokwari.

Foto bersama usai acara. Doc. Lian.

 

Manokwari, suaramambruk.com — Komunitas Rumpun Papua (rumah menulis papua) bersama Kru Antropologi UNIPA melakukan peluncuran dan pembedaan buku yang berjudul, “Jejak Kehidupan Prasejarah di Sentani” di Aula Gedung Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua pada kamis, (16/12) siang.

Buku yang dilanuching tersebut merupakan buku perdana dari Komunitas Rumpun Papua yang berkedudukan di Jayapura Papua, setelah didirikannya sudah menjalan satu setengah tahun.

Sementara untuk penulisnya adalah tujuh anggota berjenis kelamin perempuan mudah Papua yang bergiat pada dunia literasi di komunitas tersebut yang diketahui pimpinannya adalah seorang wartawan dan dosen luar biasa di jurusan antropologi fakultas sastra dan budaya universitas Papua.

Robert Yewen, sebagai editor buku dan selaku pimpinan komunitas Rumpun hendak bekerja sama dengan kru antropologi UNIPA, kata Yewen, agar informasi yang dihimpun dalam ulasan bukunya akan menjadi bahan pembelajaran tentang Etnografi Papua terutama di wilayah adat Tabi”. Kata Yewen kepada awak media sebelum acara peluncuran dan pembedaan buku dimulai.

“sebagi dosen luar biasa tentunya kerja sama membangun dunia literasi dengan konteks sosial budaya Papua”

Dia menambahkan “Pemberian informasi di akademik sangat penting guna melakukan penelitian lanjutan terhadap benda budaya, terutama pada bidang arkeologi seluruh tanah Papua” ungkap anak asli Tambrauw yang hari-hari bekerja sebagai pemburu berita.

Dalam acara pembedaan buku Robert dkk, mengundang dua civitas akademik antropologi dan satu diantara adalah perempuan papua sebagai pegiat dunia literasi papua barat sebagai panelis yakni, Dr. George Mentasan, S.Sos., M.Si, Musa Ayorbaba, S.Sos.,M.Si dan Mery, S.Pd, sebagai alumni fakultas sastra dan budaya.

Panelis pertama George Mentasan, memberikan beberapa catatan sebagai koreksian dalam penulisan hasil penelitian seperti; huruf, kata dan struktur penulisan.

“kita sebagi penulis sangat  penting mereview tulisan kita setelah menjaring data dilapangkan agar pembaca dapat memahaminya”

Selanjutnya, Mentasan mengajak “untuk mahasiswa jurusan antropologi yang berasal dari Sentani menggali informasi kedalam tentang apapun yang dijabarkan dalam bukunya” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mery sebagi panelis kedua mengapresiasi Rumpun Papua terkait dengan substansial informasi yang cukup memadai dari segi budaya bagi anak-anak Papua.

Ia, memberikan beberapa saran tentang penulisan yang harus dilakukan untuk kedepan adalah ‘penampilan di cover buku juga seperti apa yang kita muat didalam buku tersebut, agar pembaca pun juga tertarik untuk dibaca. Tandasnya.

Lanjutnya, perempuan yang lazim disapa Mery, kedepan, pihaknya siap akan memberikan catatan-catatan terpenting bagi anak-anak generasi milenial papua.

“kita akan sajikan kajian ilmiah mengenai artefak dan nilai-nilai budaya”

Ia menuturkan juga, bahwa; ditengah perubahan sosial budaya yang semakin kencang diatas tanah Papua yang kaya raya ini, kita kerja keras untuk membudayakan tulis menulis. Tutupnya dia, dengan suara keras.

Musa Ayorbaba sebagai panelis dirinya, merasa senang ketika membaca bukunya akan kaya dengan informasi-informasi yang berkaitan dengan mata kuliah Etnografi yang selama dirinya mengajar di jurusan antropologi.

“sangat baik tentang antropologi sebagai bahan ajar tentang sejarah yang ada di Sentani”

Ia pun menegaskan kepada mahasiswa antropologi bahwa “budaya menulis harus meningkatkan” .tegasnya.

Ayorbaba juga mengharapkan kepada pihak arkeologi papua bahwa;  ketika hendak melakukan penelitian yang tujuannya untuk menemukan fosil-fosil; Kata Musa,   setidaknya menggunakan teori “Structure” agar dapat memberikan metode penelitian yang cocok untuk diperdalam informasi. harapnya. (Jurnalis Warga)

 16 total views,  16 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan