Suku Mee Manokwari Merayakan Natal 10 Desember 2021

situasi sebelum ibada dimulai. Doc.Lian

Suasana Natal sebelum ibadah dimulai. Doc. Lian.

 

Manokwari, suaramambruk.com — Keluarga besar Suku Mee di Manokwari Papua Barat menggelar ibadah perayaan natal tahun 2021 yang berlangsung meriah di jalan mambruk belakang Mesjid Amban Manokwari Barat sebagi sekretariat suku, pada pukul 07:00 malam.

Perayaan natal tersebut, segenap panitia pelaksana bersepakat untuk sang penghotbahnya, diberikan  kepercayaan kepada bapak pendeta Pontan Gulto untuk dapat menyampaikan Firman Tuhan dengan Thema ‘Imanuel’ Allah Menyertai Kita, (Matius 1:23) sedangkan Sub thema ‘melalui natal ini, kita dapat menguatkan dan terus meningkatkan kebersamaan sebagai suku mee’.

Dalam penguraian Firman Tuhan, Pdt yang bertugas di Jemaat “Enaimo”  GPKI (gereja pentakosta kristen indonesia) itu mengatakan, “setiap kita dapat menjaga kekudusan dan menjaga kebaikan serta kedamaian dalam kehidupan”. kata Goltum”

“kita jaga kekudusan dan ketulusan seperti Maria dan Yusuf dimana menerima Yesus yang menjelma menjadi manusia”

Seusai ibadah inti Kepala Suku Mee bapak Marinus Adii dalam sambutan mengatakan “kita mengucap syukur kepada Tuhan karena Tuhan baik selama 1 tahun tidak ada kendala tapi kami menjalani dengan baik baik saja”

Adii  mengakui “sejak masa jabatan saya dua tahun berjalan ini, banyak masalah kendala yang hadapi tapi kami percaya Tuhan sudah buka jalan”

“kami percaya kepada Tuhan, maka kita bisa laksanakan ibadah suku mee dengan baik, dalam pelayanan malam ini juga bapak pendeta yang melayani kami Tuhan buka jalan dan keluarga bapak Tuhan berkati dalam pelayanan selanjutnya,” katanya.

Kesaksian Marinus selama kepemimpinan selam dua tahun bahwa  “Kita bekerja sama sehingga sudah selesaikan 24 masalah itu merupakan hasil dukungan dari bapak ibu semua. Sesuai dengan temah yang ada di depan kita, (Imanuel Allah Menyertai Kita) kalau kita jalan bersama-sama dengan Tuhan maka jalan kita pasti sukses”. kesannya.

“Selanjutnya Marinus harapkan sesuai khotbah tadi kita ambil dan laksanakan. Dan tahun depan itu lebih meriah dengan tahun ini. Apabila perjalanan dalam satu tahun ini saya salah memimpin dan menyakiti dalam hati bapak ibu serta mahasiswa saya mohon dimaafkan”. harap adii.

Dalam kesempatan yang sama kesan dan pesan selaku orang tua  di Manokwari Bapak Obet Dogopia S.H mengatakan “kita bersyukur kepada Tuhan, melalui natal ini saya dan kita merenungkan natal itu apa? arti dari pohon natal? apa sih imanuel?”Katanya.

Obet mengajak “natal dan pohon natal itu mendalami imanuel, cara mengundang Tuhan dalam hati, apakah suku mee sudah mengundang dalam hati, kebahagiaan itu hadir saat mengundang Tuhan dalam hati kita, kita sendiri merenungkan. Ajaknya.

“Dogopia itu berpesan kepada Kepala suku yang baru bawha; “tongkatnya harus pegang ditengah-tengah suku mee, kurangilah hal-hal yang tidak baik, disetiap suku mee ada berarti yang tidak baik buanglah,” kata Dogopia.

Dogopia juga berpesan tentang Natal ini membawa damai, “Tanggal 25 Desember itu natal dengan orang di kampung oleh sebab itu bapak ibu dan mahasiswa besok berangkat jagalah sikapmu terhadap orang tua,”

“Berbahagialah mereka menerimaNya dialah Tuhan kita. berbahagialah menerima Tuhan karena dialah akan merasakan cinta kasih Tuhan”.

Usai ibadah inti dan kesan pesan, pada acara ramah tamah dilanjuti pembagian bingkisan natal kepada janda-janda dan duda- duda yang diserahkan langsung oleh panitia dan badan pengurus suku antara lain: mama Tebay di Wosi, mama Tatogo di Reremi, mama janda Edowai di SPMA, bapak Gobai di Muliyono, mama janda Adi Maryen di Amban, mama Dou Giyai di Amban, mama Mote Adii Sanggeng, mama janda Kadepa di Amban, bapak Martinus Gobai di Amban, mama Johnmeri Pekei di Misi, dan mama Gobai Rumkorem di Amban.

Akhir dari rangkaian ibadah, laporan panitia yang dibacakan oleh mama janda, Yusinta Giyai terkait dengan  jumlah dana yang diperoleh selama pencarian dana melalui berbagai kegiatan seperti karoke, gaplek berhadiah, pasar-basar serta surat iuran wajib totalnya sebesar Rp 7.920.000 (tujuh juta sembilan ratus dua puluh ribu).

Giyai berharap “kedepan kita semua ambil bagian, natal suku mee kita punya, kalau bukan sekarang kapan lagi, kita belajar,” harap mama Giyai. (Jurnalis Warga).

 1 total views,  1 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan