Green State Vision ULMWP Adalah Misi tanpa Visi

Spanduk Aksi massa di Glasgow

      Spanduk Aksi massa di Glasgow

Kini dunia panik dengan perubahan iklim, pemanasan global, dan permukaan air laut yang naik semakin cepat. Kondisi ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh aktivitas produksi material manusia yang tidak sesuai kebutuhan, tapi keserakahan. Penggalian tambang, pembakaran minyak, batu bara, bahan bakar tanah, telah mengotori udara dengan karbon sekitar 1500 juta ton pertahunnya. Ditambah pengusiran masyarakat adat, petani kecil, dan perempuan yang punya peran penting menjaga keanekaragaman hayati. Serta pembalakan hutan demi perkebunan monokultur (kelapa sawit) yang berdampak mengurangi produksi oksigen.

Tanggapi situasi ini, kaum Imperialis dan petinggi dunia melakukan konferensi COP26 pada 31 Oktober – 12 November 2021 di Glasgow, Skotlandia. Perhelatan tindak lanjut dari Perjanjian Paris 2015 yang tidak optimal.

Beberapa hal seperti: pentingnya peralihan ke kendaraan bahan bakar fosil ke listrik; mengakhiri deforestasi dengan bantuan keuangan; penyusunan aturan untuk pasar karbon global; mobilisasi dana untuk negara-negara berkembang, dibahas di sana, dengan target 2050 (nol emisi dan pengurangan karbon secara progresif pada 2030).

Di sela situasi itu ULMWP mengambil momentum untuk mendeklarasikan Green State Vision di kota yang sama. Ibrahim Peyon, Erik Walela (akun fb samaran), dan para lord dalam ULMWP beberapa kali mencoba menjelaskan sikap tersebut. Namun makna dari sikap tersebut seperti awan yang tidak mampu digenggam.

Rakyat bingung dan bertanya ini proyek apa? Penjelasan mereka benar–hanya dalam tanda kutip–ketika ULMWP cs mengatakan “manusia sebagai faktor perubahan iklim bumi” yang semakin parah. Namun manusia ini siapa? Dalam peluncurannya, Lord Benny Wenda menjelaskan sedikit latar belakang situasi Papua, namun tidak ada penjelasan ke mana orientasi/arah proyek ini akan bergerak? Tidak ada penjelasan, ULMWP hanya terlihat mengemis dukungan. Ini menimbulkan prasangka bagi rakyat Papua.

Manusia dalam masyarakat terbagi menjadi dua: penjajah dan yang tertindas. Penindasan kapitalisme telah sampai tahap monopoli (imperialisme). Masyarakat telah terbagi menjadi dua, antara segelintir negeri Imperialis dan 85% populasi dunia yang tersingkir dan dihisap, termasuk West Papua.

Kondisi pemanasan global dan lapisan ozon yang rusak, tentu saja merupakan kegagalan sistem kapitalisme dalam menciptakan kemakmuran bagi rakyat dan keseimbangan alam. Kapitalisme adalah sistem serakah tanpa masa depan. Demi pundi-pundi kekayaan, kapitalisme cungkil isi perut bumi dan membawa manusia dalam ancaman kiamat.

Kapitalisme, di bawah gagasan neoliberalisme, borjuis justru menghapus subsidi/layanan sosial dan mempersenjatai diri, menciptakan pasukan-pasukan perang, nuklir, dan modernisasi industri dengan uang (hasil penghisapan) rakyat untuk mengeksploitasi bumi dan manusia.

Deforestasi dan upaya pengurangan emisi tidak akan turun, selama dunia ketiga dan west Papua tetap menjadi ladang penghisapan. Tidak ada deforestasi selama ada konsentrasi militer dilakukan untuk merampas tanah, membabat hutan, dan mengusir peran perempuan, petani kecil, dan masyarakat adat.

Di Indonesia data justru membuktikan bahwa pemerintah borjuasi turut mengambil peran dalam merusak alam, sampai kolonial yang tuli mengesahkan Omnibus Law dan Otsus Jilid 2. Indonesia membabat hutan lebih besar daripada reboisasi. Selain film Sexy Killer yang juga menampilkan bagaimana proyek batu-bara menjadi komoditi yang seksi karena murah dan menguntungkan sekali pun menyumbang emisi yang besar. Kondisi ini justru terbalik dengan pernyataan Indonesia yang justru terlihat mengemis suntikan dana dalam pertemuan COP26.

COP26 adalah proyek kabualan, sebuah proyek untuk mengaburkan keadaan bahwa sistem kapitalisme adalah masalah dari kerusakan bumi dan bahaya bagi manusia. COP26 bukan sebuah jawaban bagi keselamatan bumi dan manusia. Greta Thunberg, aktivis lingkungan asal Swedia mengatakan, COP26 tak patut disebut sebagai konferensi tentang masalah iklim. “Bukan rahasia lagi kalau COP26 adalah kegagalan,” Thunberg dari situs berita AFP. Ini hanyalah sebuah upaya cuci tangan dari kerusakan yang sudah ditimbulkan dengan kesepakatan2 yang menghisap. Bag kisah Rockhefeller yang telah mengumpulkan kekayaan melalui perang dan nyawa jutaan manusia, kemudian mendirikan lembaga-lembaga amal.

Di Papua, sentralisasi militer sejak aneksasi 1963 di Papua telah mendatangkan penanaman modal internasional. Freeport sudah eksploitasi, merusak alam, dan usir orang Amugmee; Mife jadi iblis di selatan; BP LNG jadi penyakit di bagian barat.

Dengan landasan menyelamatkan bumi dan manusia, rakyat Papua sudah berjuang 50 tahun melawan penjajahan Imperialisme dan kolonialisme. Perjuangan rakyat Papua adalah perjuangan untuk menyelamatkan manusia dan alam dari genosida dan ekosida. Sementara kolonialisme, dengan hukum, kekerasan, dan aparat militer yang didanai Imperialisme Amerika, Eropa Barat, dan Australia terus merusak dan menghambat impian (bebas) orang Papua.

Beberapa hari kemarin ULMWP meluncurkan visi negara hijau “Green State Vision”. Apa tujuannya? tentu tidak jauh dari proyek imperialisme. Jika ditinjau dari wacana yang dibangun, lahirnya proyek ini tentu tidak jauh dari proyek COP26 sebab tujuannya mirip.

Melihat kondisi ini, dapat kita simpulkan bahwa, Green State Vision adalah misi tanpa visi. ULMWP tidak akan menyelamatkan bumi dan manusia, sementara masih berkiblat menghadap pengakuan dari negara-negara imperialis. ULMWP bisa saja mendapatkan dana operasional untuk menanam pohon atau menimbun lubang tambang, tetapi tidak untuk menghapuskan penindasan.

Bumi, manusia Papua, dan dunia hanya akan bebas jika kapitalisme digantikan oleh sistem yang lebih manusiawi atau sosialisme. Tugas ULMWP (harusnya) bukanlah menghamba pada proyek cuci tangan imperialisme, yang justru mengkerdilkan ULMWP seperti wadah cari dana proyek penghijauan dunia di COP26.

ULMWP akan membebaskan manusia dan dunia hanya ketika ia menghadap dan menjadikan rakyat sebagai sumber inspirasi; menjadi lebih demokratis; mau membuka diri dihadapan rakyat. Memimpin rakyat menuju kemerdekaan. Bukan deklarasi sektarian yang diinspirasi oleh imperialis dan membuat deklarasi tanpa visi.

ULMWP silahkan bergabung ke dalam arak-arakan massa di ruas-ruas jalan Glasgow.

“Berapa banyak polisi yang mampu menahan kekacauan iklim?”

 

Oleh : Abbi Douw

Aktivitas AMP Yokayakarta

 

 7 total views,  7 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua