Operasi Intelejen Tingkat Tinggi Antara Indonesia Dan Israel

Suaramambruk.com — sudah banyak orang tau bawah Israel dan Indonesia tak pernah memilik hubungan diplomatik,  lantaran para politisi dan ulama membenci Israel karna terus mengusik ketentraman rakyat palestina . Indonesia mati – matian membelah kedaulatan Palestina demi sebuah keyakinan bahwa negara israel mencaplok tanah air Palestina .

Tak banyak orang tau bawah demi sebuah kedaulatan Indonesia yang kekuarangan armada tempur di udara pada Tahun 80-an . sebuah operasi besar dalam sejarah dimainkan antara Indonesia , Amerika dan Israel

Dalam tulisan Jim Winchester dalam Douglas A-4 Skyhawk : Attack and Close Support Fighter Bomber (2004). Winchester menulis, Indonesia pernah membeli pesawat buatan Israel, A-4 Skyhawk. Pembelian pesawat tempur itu dilakukan secara rahasia melalui perantara Amerika Serikat.

Pembelian itu menurut Winchester dilakukan ketika kunjungan Wakil Presiden Amerika Walter Mondale dalam lawatannya ke Jakarta pada Mei 1978. Mondale menawarkan Indonesia buat membeli 16 pesawat Skyhawk milik Israel.

“Empat belas single-seat dan dua two-seat Skyhawk dikirim pada November 1979, tapi pesawat itu adalah A-4Es dan TA-4Hs stok milik Israel,” tulis Winchester

Pembelian itu dibenarkan oleh salah seorang pengusaha Israel, Emanuel Shahaf. Ia bilang kerja sama dengan Indonesia mengenai pertahanan memang menjadi salah satu bagian hubungan bisnis. “Diawali dari zaman Pak Benny Moerdani,” kata Emanuel kepada Tirto.

Pembelian pesawat Skyhawk milik Israel itu memang pernah dilakukan Indonesia pada 1978 dan dilakukan dengan operasi intelijen bernama ‘Operasi Alpha’, dengan melibatkan Badan Intelijen ABRI (BIA). Moerdani lah yang merancang operasi rahasia itu. Benny saat itu menjabat Asisten Intelijen Pertahanan dan Keamanan. Pembelian memang dilakukan secara rahasia mengingat sentimen anti-Israel masih terus berkembang sampai kini bagi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.

Buat sampai ke Indonesia, pesawat itu dikirim secara berkala melalui jalur laut. Empat pesawat di antaranya dikirim langsung dari Israel menggunakan kapal. Buat mengelabui pengiriman selama di perjalanan, Skyhawk dibungkus plastik bertuliskan F-5, jenis pesawat tempur buatan Amerika. Sebab, di saat bersamaan, pemerintah juga membeli pesawat jenis F-5 dari Amerika.

Alasan membeli pesawat Skyhawk buatan Israel secara diam-diam karena sampai kini pun kedua negara tidak punya hubungan diplomatik. Alasan lain, Skyhawk adalah pesawat tempur yang tergolong unggul menurut pertimbangan TNI Angkatan Udara. Salah satu keunggulan itu air refueling, yakni kemampuan mengisi bahan bakar saat mengudara. Selain itu, A-4 Skyhawk bisa meluncurkan rudal anti-radiasi. Skyhawk memang dibidik buat menggantikan F-86 Sabre dan T-33 Thunderbird yang sudah berumur tua

Misi Rahasia Melatih Pilot ke Israel

Tak hanya membeli pesawat, “Operasi Alpha” menjadi satu paket pelatihan sepuluh perwira menerbangkan Skyhawk di Israel. Djoko Poerwoko dalam biografinya, Menari di Angkasa (2007), mengisahkan keterlibatannya dalam operasi pada awal 1980 itu.

Poerwoko, bersama 9 perwira, diterbangkan melalui Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, menuju Pangkalan Udara Paya Lebar, Singapura. Mereka menumpang pesawat Garuda. Setibanya di sana, 10 perwira sempat ditemui Benny Moerdani yang saat itu menjabat Kepala Badan Intelijen ABRI. Mereka lanjut terbang ke Frankfurt, Jerman, untuk transit lantas menuju Tel Aviv.

Poerwoko mengira saat itu ia diterbangkan ke AS. Apalagi misi rahasia itu semua diketahuinya untuk belajar menerbangkan F-5 E/F Tiger II, yang memang dipesan oleh pemerintah Indonesia untuk Angkatan Udara. Dia dan 9 perwira lain ialah gelombang terakhir yang dikirim buat mempelajari persenjataan dan kendaraan perang baru milik TNI.

“Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian,” ujar Moerdani kepada Poerwoko ketika makan malam bersama sepuluh perwira itu.

Di Tel Aviv, Poerwoko bersama sembilan koleganya sempat beristirahat semalam sebelum menempuh perjalanan darat dua hari menuju pangkalan tempur di Eilat, kota paling selatan Israel. Di sana lah para perwira itu dilatih buat menerbangkan A-4 Skyhawk. Dalam bukunya, Poerwoko mengatakan tidak mengetahui apa nama pangkalan tempur milik angkatan udara Israel itu. Seingatnya, saat perjalanan menuju pangkalan tempur itu, mereka melewati Laut Mati, sebuah danau yang membujur antara daerah Israel, Palestina, dan Yordania. Mereka kemudian menamai sendiri pangkalan itu dengan nama ‘Arizona’ sesuai tempat latihan mereka seharusnya.

Dalam buku yang ditulis Winchester, diketahui bahwa Poerwoko dilatih oleh Skuadron 141 di Etzion. Mereka berlatih mengoperasikan Skyhawk kurang lebih sekitar 4 bulan dan berakhir pada 20 Mei 1980. Usai latihan, para perwira lantas diterbangkan ke New York, berbarengan dengan Skyhawk dikirim ke Indonesia. Tujuannya untuk menyamarkan rute kepulangan ke Indonesia.

 

Pembelian Skyhawk sempat jadi pertanyaan kala itu. Namun, Menteri Pertahanan dan Keamanan M. Jusuf buru-buru memberi klarifikasi. Skyhawk, kata Jusuf, adalah pesawat bekas Israel yang dibeli Amerika, kemudian dijual ke Indonesia.

Pesawat A-4 Skyhawk pertama kali dipamerkan pada publik, Oktober 1980. Pesawat ini pernah dipakai dalam ‘Operasi Seroja’ alias pendudukan Indonesia atas Timor Timur sejak 1975. Pada 2004, Skyahawk dipensiunkan. Jejak peninggalan kerja sama militer Indonesia dan Israel itu kini bisa dilihat di Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta.

Sampai saat ini, “Operasi Alpha” tak pernah diakui secara resmi oleh pemerintah Indonesia. Benny Moerdani bahkan tidak sekalipun menyinggung operasi tersebut dalam biografinya.

 

 

 

 212 total views,  212 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan