Timor Leste Juara Jurnalisme, Indonesia Tidak Malu?

Negara muda Timor Leste (dahulu Timor Timur) secara mengejutkan menempatkan dirinya sebagai negara yang memiliki peringkat kebebasan pers terbaik di wilayahnya.

Jika dikatakan kebebasan pers dan perjuangannya, maka hal tersebut merujuk kepada seorang jurnalis memperoleh haknya dalam memberitakan dan menulis kebenaran.

Timor Leste ternyata menyalip posisi Indonesia. Negara mantan NKRI itu berada di posisi ke 72 dari 180 negara.

Inisiator Indeks Kebebasan Pers itu disusun oleh Reporters Without Borders (RSF). Itu adalah LSM internasional yang konsultatif dengan PBB. RSF baru saja merilis Indeks Kebebasan Pers Dunia 2021 dari 180 negara di dunia.

Sama seperti dalam indeks negara paling bahagia di dunia, negara-negara Skandinavia juga mendominasi peringkat teratas Indeks Kebebasan Pers tersebut. Norwegia, Finlandia, Swedia, dan Denmark, masing-masing menduduki peringkat 1,2,3 dan 4.

Di peringkat ke 5 bertengger Kosta Rika.

“Norwegia selama bertahun-tahun menduduki peringkat teratas dari kebebasan berbicara dan peringkat demokrasi,” ujar RSF.

Peringkat negara-negara Asia Tenggara begitu buruk. Singapura boleh menjadi negara sejahtera bukan saja di Asia namun juga dunia. Namun Indeks Kebebasan Pers negara Singa ini tahun 2021 berada di peringkat ke 160.

Negara-negara yang mengekang kebebasan berbicara lainnya di Asia Tenggara antara lain bahkan berada “paling belakang”. Vietnam di 175, dan Laos di 172.

RSF mengatakan ada lebih dari 30 blogger dan jurnalis yang dipenjarakan, mereka bahkan sering dianiaya, dan kekerasan oleh polisi.

Di Laos, Partai Revolusi Rakyat Laos (LPRP) memiliki kendali penuh dan mutlak atas media. Media asing yang ingin membuka kantor mereka di sana harus tunduk kepada undang-undang sensor yang ketat.

Brunei Darussalam di peringkat ke 154. Hukum syariah yang ekstrem di negara yang terletak di Kalimantan Utara itu menjadikan kritik atau penistaan kepada Kesultanan Brunei Darussalam dianggap “tidak ada”.

Kamboja berada di peringkat ke 144. Kendati di negara seribu pagoda itu telah terbentuk Aliansi Jurnalis Kamboja pada tahun 2019 yang memberikan perlindungan, akan tetapi hal itu tidak cukup menghindari para jurnalis untuk dijebloskan ke penjara atas “kesalahan” yang dibuat oleh pemerintah.

Myanmar yang trending topic karena terjadi kudeta berada di peringkat ke 140. Mengapa Myanmar justru berada di peringkat ke 140, yang secara relatif lebih baik?

Sejatinya negara yang dulu namanya Burma itu bahkan mengalami perbaikan peringkat 20 posisi dari 2013 sampai 2017.

RSF menjelaskan, setelah militer mengambil alih kekuasaan pada Pebruari 2021 lalu, para jurnalis tidak takut dipenjarakan karena mengkritik militer atau pemerintah.

Filipina di peringkat ke 137. Ini disebabkan karena Presiden Rodrigo Duerte boleh dikatakan membenci para wartawan.

Negara yang turun tajam adalah Malaysia. Jika pada tahun 2020 negeri Jiran di peringkat ke 101 dari 180 negara. Tahun 2021 ini mereka turun 18 posisi menjadi 119.

Hal tersebut dijelaskan RSF terjadi penurunan pada tahun 2020 di Malaysia dimana telah terjadi pengusiran jurnalis, penggeledahan oleh polisi, penuntutan, dan pelanggaran yang mencolok terhadap kerahasiaan sumber jurnalis.

Sejatinya Malaysia pernah mengalami perbaikan yang drastis setelah peralihan kekuasaan pada tahun 2018 hasil pemilu. “Lingkungan jurnalis menjadi lebih baik,” lanjut RSF.

Akan tetapi sekarang Malaysia mengalami penurunan yang paling buruk, 18 posisi.

Dimana posisi Indonesia?

Indonesia berada di peringkat ke 113, dalam hal kebebasan pers, RSF mengatakan “masih menunggu masa jabatan kedua Joko Widodo”.

Sama dengan Thailand ternyata posisi Indonesia mengalami peningkatan 3 posisi. Thailand di peringkat ke 138, siapa pun yang melontarkan kritik ke Raja Thailand terancam hukuman yang tidak ringan.

Blogger atau jurnalis pembangkang dapat dibui 15 tahun.

Yang paling mengagumkan adalah Timor Leste. Berada di peringkat ke 72. Naik peringkat cukup tajam.

Kendati dalam indeks kemiskinan berbeda jauh antara Indonesia dan Timor Leste, akan tetapi Indonesia harus malu terhadap Bumi Lorosae, kalah jauh dalam Indeks Kebebasan Pers ini.

RSF mengatakan Timor Leste masih menderita dari “undang-undang media yang kejam”. Ada pembungkaman kritik kepada Gereja Katolik yang mempunyai banyak kekuasaan di Timor-Leste.

Padahal UNDP menempatkan Timor-Leste di peringkat ke 152 dari 162 negara di dunia. Bahkan Global Hunger Index menempatkan Timor Leste sebagai negara terlapar di dunia setelah Chad di Afrika Tengah.

 24 total views,  24 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan