China Diduga Mau Ambil Perusahaan Jack Ma

 Suaramambruk.com — Jakarta, CNN Indonesia — Penyelidikan anti-monopoli yang dilancarkan pemerintah China terhadap gurita bisnis Jack Ma, Alibaba dan Ant Group, diduga bakal berujung pada nasionalisasi.

Mengutip IB Times, penyelidikan tersebut mengindikasikan rencana Partai Komunis China (PKC) agar Alibaba dapat diambil alih negara.

Song Qing, orang dalam industri keuangan dan internet, berpandangan rencana penyelidikan kepada Alibaba kemungkinan datang dari level tertinggi partai.

“Pengambil alihan ini pasti terjadi, dan (penyelidikan anti-monopoli) mungkin akan mempercepat proses itu… Hal itu juga, menurut saya, sengaja untuk memberikan pelajaran (bagi Ant dan Alibaba),” katanya kepada Radio Free Asia.

Melansir NBC News, penyelidikan antitrust terhadap Alibaba Group merupakan bagian dari tindakan tegas terhadap perilaku anti kompetitif di ruang internet China.

Otoritas China sendiri telah mengeluarkan rancangan aturan yang bertujuan mencegah perilaku monopolistik oleh perusahaan internet. Mereka juga berjanji untuk memperkuat upaya anti-monopoli pada tahun 2021.

People’s Daily, media harian PKC beberapa hari lalu menggembar-gemborkan bahwa penyelidikan anti-monopoli yang dilakukan pemerintah menuju ke arah yang lebih baik.

Dalam artikel tersebut politbiro berpandangan ‘tindakan anti-monopoli’ memang harus diperkuat untuk mencegah ekspansi modal yang serampangan.

Sebelumnya People’s Bank of China mengumumkan bahwa empat regulator keuangan negara akan memanggil Ant Group, perusahaan keuangan yang berafiliasi dengan Alibaba, dalam sebuah pertemuan yang akan “memandu Ant Group” untuk menerapkan pengawasan keuangan dan mengatur layanannya.

Ant Group adalah platform pembayaran online terbesar di negara China. Ant menawarkan segala sesuatu mulai dari rekening investasi dan produk tabungan mikro, hingga asuransi, skor kredit, dan bahkan profil kencan.

Pengawasan terhadap Ant telah lama dilakukan setelah Jack Ma membeli perusahaan keuangan itu.

Kritikan Jack Ma Untuk Pemerintah China

Sebelumnya Pendiri gurita Alibaba Group Jack Ma terkenal sebagai tokoh publik  vokal dalam mengkritisi pemerintah China. Tak banyak pebisnis atau figur publik yang secara terang-terangan mengkritisi regulator keuangan partai Komunis China.

Namun, tak begitu dengan Jack Ma. Beberapa kali dia menyerukan kritikan terhadap pemerintah China secara terang-terangan. Berikut kritikan Jack Ma terhadap kebijakan ekonomi China.

 

  1. Regulator Keuangan China Dinilai Berlebihan

Pada 2013 lalu, dalam sebuah wawancara dengan People’s Daily, pendiri Alibaba Group ini menyebut regulator keuangan China telah ‘berlebihan’. Dia kemudian menyerukan keterbukaan dalam industri yang menurutnya tidak melayani mayoritas masyarakat China ini.Jack Ma menilai industri perbankan China cukup kaku karena hanya memberikan pelayanan kepada segelintir masyarakat saja.

“Industri keuangan China, terutama industri perbankan, hanya melayani 20 persen klien dan saya melihat ada 80 persen klien yang tidak tercakup (oleh layanan mereka),” katanya seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (5/1).

Jack Ma lalu menambahkan tentang dirinya yang tak terlalu tahu banyak soal keuangan.”Sebagai orang awam, saya tidak tahu terlalu banyak tentang keuangan. Layanan keuangan seharusnya tentang melayani orang awam, daripada bermain dalam lingkaran Anda sendiri dan menghasilkan uang sendiri,” papar Ma.

  1. Sistem Keuangan China Dianggap Hambat Inovasi

Tujuh tahun berselang dari wawancara tersebut, Jack Ma tak berubah. Ia tetap vokal dalam mengkritisi pemerintahan Xi Jinping.

Alibaba yang sempat menjadi bisnis panutan dan menjadi representasi tonggak kesuksesan e-commerce China. Tapi bisnis itu berubah menjadi ‘musuh’ pemerintah.

Ini merupakan buntut dari kritik Jack Ma terhadap regulator China pada akhir Oktober 2020 lalu. Pada sebuah konferensi di Shanghai akhir Oktober 2020, ia mengkritik regulator China karena menghambat inovasi dan tidak memiliki risiko sistem keuangan yang sehat.

“Yang kami butuhkan adalah membangun sistem keuangan yang sehat, bukan risiko keuangan yang sistematis. Berinovasi tanpa risiko berarti mematikan inovasi. Tidak ada inovasi tanpa risiko di dunia,” ujar Jack Ma kala itu.

Tak lama berselang dari pernyataan tersebut, Ma diinterogasi oleh regulator pada 2 November 2020 atau hanya beberapa hari dari debut pencatatan saham perdana interogasi tersebut berbuntut pengguhan Initial public offering ( IPO) Ant Group  oleh regulator China pada 6 November silam.

Imbasnya, grup tersebut kehilangan peluang mendapatkan US$37 miliar setara Rp525,77 triliun (mengacu kurs Rp14.210 per dolar AS) dari gelaran IPO itu.

Selama kasus perselisihan antara Alibaba Group dan pemerintah China bergulir, tak ada kabar soal keberadaan Jack Ma. Hilangnya sosok Jack Ma dari mata publik dicurigai merupakan buntut dari kritik yang dilontarkannya tersebut.

Kecurigaan mulai muncul akhir-akhir ini setelah Jack Ma tidak tampil di hadapan publik selama beberapa pekan terakhir. Hingga saat ini, belum jelas keberadaan Jack Ma meski berbagai spekulasi mulai bermunculan.

 

 2 total views,  2 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan