Rekam Jejak Perang Dunia II di 7 Wilayah Indonesia

Suaramambruk.com –Indonesia tidak pernah terlibat dengan Perang Dunia II. Namun siapa sangka beberapa wilayah ini jadi saksi bisu perang paling mengerikan sepenjang sejarah itu.

Kala kubu Axis yang berisi Jerman, Jepang, dan Italia kalah dari Sekutu, para pemuda Indonesia berhasil mendesak untuk meyakinkan Soekarno dan Hatta untuk segera memerdekakan Indonesia.

Hari itu, di tengah perang yang sudah berjalan selama enam tahun itu (sejak 1939 sampai 1945) harus menjadi hari terakhir Jepang menginjakkan kaki di Indonesia. Termasuk juga Belanda.

Keadaan limbung yang terjadi di Jepang itu berhasil mengukir momen kemerdekaan bagi bangsa ini.

Selama Perang Dunia II, Indonesia memang tidak terlibat secara langsung. Namun ternyata perang disebut paling mengerikan di dunia yang telah memakan korban hampir 85 juta jiwa itu menyimpan beberapa saksi bisu yang “tertinggal” di Indonesia.

Itu karena Jepang saat itu memanfaatkan beberapa daerah Indonesia yang dianggap strategis untuk menjadi markas mereka. Lalu datang AS dari Sekutu yang berhasil merebut basis militer Jepang di Indonesia.

Berikut wilayah-wilayah yang masih menyimpan memori perang yang juga paling mengerikan sepanjang sejarah. Bahkan ditemukan granat yang masih aktif, lho.

Pulau Biak

Goa Jepang, Jejak Peninggalan Perang Dunia II di Pulau Biak © Tirto.id/Andrey Gromico

Di Pulau Biak, Papua, ada sebuah gua yang dinamai “Goa Jepang”. Gua ini dulunya digunakan tentara Jepang sebagai basis militer. Di dalam gua tersebut juga dibangun lima kamar yang dipercaya digunakan oleh Jepang untuk perawatan para korban perang.

Baik gua maupun sisa-sisa senjata yang ditemukan, saat ini kondisinya masih ada dan terawat dengan baik. Sehingga bisa menjadi saksi sejarah.

Selain menjadi basis militer Jepang, Pulau Biak juga pernah dijadikan pertempuran antara tentara Sekutu yang dipimpin oleh Jenderal Mc Arthur pada tahun 1944. Tak jauh dari kawasan Pulau Biak, yaitu di Pulau Owi masih memiliki landasan pacu yang dulunya digunakan tentara Jepang.

Kepulauan Mapia

Kuburan Kuno Jepang Sebagai Jejak Peninggalan Perang Dunia II © Redransel.wordpress.com

Masih dari daerah Papua, namun kali ini terletak di garis terluar wilayah Papua dan berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Kepulauan Mapia digunakan oleh Jepang kala itu sebagai kawasan basis pertahanannya. Kawasan ini memiliki banyak kelapa yang kopranya bisa dimanfaatkan sebagai penghasil minyak.

Beberapa penduduk Papua juga pernah dibawa paksa oleh Jepang untuk dipekerjakan mengolah kopra. Menariknya, konon para pekerja itu selamat semua karena mereka bersembunyi saat Jepang akhirnya dibombardir.

Bukti jejak peninggalan yang masih ada yaitu terlihat kuburan kuno para tentara Jepang yang tewas dan tanda-tanda pangkalan udara pernah terbentuk di sana.

Tembrauw

Tank Milik Tentara AS, Jejak Peninggalan Perang Dunia II di Tambrauw, Papua Barat © Detikcom/Bonauli

Masih dari Papua, kali ini ke wilayah Papua Barat, tepatnya di Kabupaten Tambrauw. Ternyata Tambrauw tertulis dalam buku sejarah Perang Dunia II sebagai tempat dan saksi bisu pertarungan antara AS dan Jepang.

Bahkan salah satu produser AS membuat sinema dokumenter khusus tentang Tambrauw dengan judul Invansion of Sausapor. Sausapor sendiri merupakan ibu kota sementara Kabupaten Tambrauw.

Rekam jejak Jenderal Douglas McArthur di Tambrauw juga terpatri dalam video yang diunggal oleh kanal WW II Public Domain yang pernah tersebar di Youtube. Unggahannya masih bisa diakses, lho, sampai saat ini.

Sudah ditemukan lima tank yang dipercaya milik pasukan AS yang masih ada di Distrik Bikar, Kabupaten Tambrauw. Empat diantaranya diduga artileri dan satu lainnya diduga tank amfibi. Meski sudah berkarat dan terbalut lumut, tapi wujud tanknya masih sempurna. Roda rantai yang melingkar roda-roda giginya masih lengkap.

Lombok Utara

Penyelam Sedang Melihat Jejak Peninggalan Perang Dunia II di Lombok Utara © Tracey Jones Photography

Jejak peninggalan Perang Dunia II di Lombok ternyata ditemukan di area Gili Trawangan, daerah yang selama ini menjadi destinasi wisata. Di kedalaman laut para wisatawan bisa menemukan bangkai kapal karam milik Jepang yang sudah menjadi terumbu karang.

Kapal karam itu bernama Japanese Wreck dan Bounty Wreck. Ini pula yang menjadi daya tarik wisatawan saat mengunjungi Gili Trawangan.

Ada pula gua penyimpanan senjata dan meriam yang sudah tidak bisa aktif. Itu semua kini dilindungi untuk keperluan konservasi sejarah.

Morotai

Monumen Jenderal McArthur, Jejak Peninggalan Perang Dunia II di Morotai © Detikcom/Fanny Kristiadhi

Pada tahun 1942, Jepang diketahui mendarat di Morotai. Morotai adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang lokasinya berada di Kepulauan Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Kala itu Jepang menempatkan kapal perangnya di wilayah Halmahera dan membangun lapangan terbang militer.

Namun, basis pertahanan Jepang di Morotai berhasil ditembus AS sehingga Morotai diambil alih. Kala itu AS dipimpin oleh Panglima Divisi VII AS, Jenderal Douglas McArthur. Sosok Sang Jenderal kini diabadikan dengan berdirinya patung monumen Jenderal McArthur yang berada di Pulau Zum-Zum.

Ternyata, Morotai memiliki banyak jejak sejarah Perang Dunia II. Selain patung Sang Jenderal, wisatawan juga diajak untuk Wisata Air Kaca. Yaitu menyusuri tempat yang dulunya digunakan untuk mandi sehari-hari para tentara sekutu.

Tak jauh dari tempat Wisata Air Kaca, terdapat tank amfibi milik Jepang yang sudah terkena bom tentara sekutu. Di Museum Perang Dunia II Morotai, Kawan GNFI nantinya akan menemukan peninggalan berupa senjata, topi baja, sampai peralatan makan tentara.

Belum lagi puing-puing kendaraan perang yang tenggelam di laut dan menjadi rumah terumbu karang.

Jambi

Tiga Granat Nanas Aktif di Jambi, Jejak Peninggalan Perang Dunia II © Google Image/Gatra.com

Zulkifli tengah mencari kayu hingga ke samping rumah tetangganya, Melly. Saat berjalan, ia tersandung sebuah besi bulat. Awalnya Zulkifli mengira itu hanya batu.

Namun rasa penasarannya membuat ia mengangkat batu itu dan menyadari bahwa batu itu serupa dengan granat. Ia menemukannya tiga sekaligus dalam satu tempat.

Setelah Zulkifli melaporkan penemuannya, Tim Penjinak Bom Gegana Satuan Brimob Polda Jambi akhirnya memusnahkan “batu” tersebut. Ternyata, itu bukan batu, tapi tiga granat aktif yang diketahui merupakan peninggalan Perang Dunia II.

Pemusnahan dengan cara disposal ini harus dilakukan karena cincin granatnya sudah tidak ada dan sewaktu-waktu bisa meledak.

Penemuan itu terjadi pada 10 Juni 2019 silam. Polda Jami menghimbau masyarakatnya untuk segera melapor ketika menemukan benda serupa karena dikhawatirkan masih bisa ditemukan senjata atau granat aktif lagi.

Pulau Tarakan

Museum Perang Dunia II di Pulau Tarakan © Detiktravel

Berbeda dengan daerah lainnya yang merupakan basis militer tentara Jepang, Pulau Tarakan justru dijadikan basis militer tentara Sekutu. Pulau Tarakan dipilih menjadi salah satu tempat yang dijadikan gudang senjata Sekutu untuk memasok persenjataan saat Perang Dunia II.

Ditemukan banyak bangkai meriam dan terdapat bunker, barak logistik artileri, serta beberapa bangunan yang dulunya diketahui difungsikan sebagai gudang senjata dan tempat pengintaian musuh. Kini, semua itu dikumpulkan dan disimpan di Museum Perang Dunia II di Tarakan.

Pulau Tarakan dianggap sebagai tempat strategis para tentara Sekutu untuk mengawasi lawannya. Ini karena Pulau Tarakan terletak di wilayah laut Sulawesi yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur.

 35 total views,  35 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan