Menhan RI Teken MoU Pencarian Tentara AS Yang Hilang Di Papua , Sejak Perang Dunia II

Jakarta,Suaramambruk.com— Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto dan Menhan Amerika Serikat (AS), Mark T Esper meneken nota kesepakatan (Memorandum of Understanding atau MoU) untuk upaya pencarian tentara AS yang hilang di Indonesia saat perang dunia ke-2. Begini jejak perang pasukan AS dan Jepang di Papua

Menhan Prabowo Subianto bertemu dengan Menhan Amerika Serikat (AS), Mark T Esper di Pentagon, Washington AS. Keduanya meneken nota kesepakatan (Memorandum of Understanding atau MoU) untuk upaya pencarian tentara AS yang hilang di Indonesia saat perang dunia ke-2.

“Untuk memulai kembali pekerjaannya di Indonesia untuk memulihkan sisa-sisa personel AS yang hilang di Indonesia selama Perang Dunia II,” demikian keterangan dari laman resmi Kementerian Pertahanan AS yang dikirim oleh juru bicara Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak, Sabtu (17/10/2020).

“Kedua pemimpin ini menyatakan simpati kepada mereka yang terkena COVID-19 di Amerika Serikat dan Indonesia,” sambung pernyataan dari website itu.

Sebelumnya Peneliti Badan Arkeologi Papua Hari Suroto mengatakan  Satu-satunya wilayah Indonesia yang menjadi saksi pertempuran langsung antara Pasukan Amerika dengan Jepang pada Perang Dunia II atau disebut juga Perang Pasifik adalah Papua

Waktu itu, kata Hari, Pasukan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur. Mereka menjadikan Sentani sebagai pangkalan terbesar pasukan Amerika.

“Untuk merebut Sentani dari Jepang tentu bukan hal mudah, banyak tentara Amerika yang gugur, begitu juga pasukan Jepang yang mempertahankan Sentani. Wilayah Hollandia nama Kota Jayapura waktu itu, menjadi ajang perebutan antara Jepang dan Amerika,” ujarnya.

( Pasukan Sekutu Membom Markas Jepang Di Hollandia )

Hari menjelaskan Jepang menguasai Hollandia kemudian membuat tiga lapangan terbang di Sentani. Setelah itu Jepang dikalahkan oleh Amerika, lapangan terbang ini kemudian dikuasai dan diperpanjang dan diperluas.

“Lapangan terbang itu juga dikenal sebagai Hollandia Drome. Hollandia, jadi target khusus Jenderal MacArthur panglima Amerika di Asia Pasifik. Ia ingin menjadikan Hollandia sebagai titik tolak menyerbu Jepang,” ucapnya.

Pada waktu itu, lanjut Hari, Sekutu mengerahkan 250.000 pasukan yang mendarat di Hollandia. Mereka bertempur melawan pasukan Jepang yang berjumlah 11 ribu.

“Operasi ini diberi sandi “reckless” dipimpin Jenderal Douglas MacArthur dibantu Laksamana D. E. Barbey dan Letnan Jenderal R. L. Eichelherger dari atas kapal induk Nashville. Pukul 10.00 pagi tanggal 22 April 1944 Jenderal Douglas MacArthur mendarat di Pantai Hamadi, Hollandia,” paparnya.

Usai mengusir Jepang, Hari mengatakan, Jenderal Douglas MacArthur mendirikan markas besarnya Jayapura. Dari Ifar Gunung Sentani, MacArthur sambil makan es krim merencanakan serangan balik ke Filipina dengan strategi lompat katak.

“Usai merebut Jayapura, sejumlah prajurit zeni kemudian dikerahkan oleh Sekutu untuk memperkuat pangkalannya di Sentani. Pasukan zeni tersebut, dibantu tenaga insinyur teknik. Tugas utama mereka adalah membuat landasan baru, yang lebih luas agar bisa didarati oleh pesawat pengebom B-29 Superfortress. Merekalah yang memegang peranan penting dalam pembuatan landasan pesawat serta jalan-jalan raya di sekitarnya. Hasil kerja mereka itu sampai saat ini masih tetap dipergunakan,” ucapnya.

Dalam proses pembuatan landasan serta jalan raya ini, Hari menjelaskan, pasukan Sekutu bekerja ekstra keras dengan terlebih dahulu meratakan sisi-sisi pegunungan di sekitar areal tersebut. Setelah itu, jembatan-jembatan serta pipa-pipa pembuang air didirikan di sepanjang sungai. Kemudian, untuk membuat jalan raya, rawa-rawa ditimbun dengan kerikil dan batu-batu.

“Hanya dalam waktu semalam, Hollandia bermetamorfosis dari sebuah kampung yang sunyi sepi menjadi sebuah kota berpopulasi 250.000 manusia-jumlah yang sepertiga lebih banyak dari total jumlah penduduk Papua saat itu,” ujarnya.

Hari mengatakan Hollandia kemudian menjadi salah satu markas militer terhebat selama Perang Dunia II. Sebagian besar komando untuk wilayah Pasifik Barat Daya dioperasikan dari Hollandia.

“Sekutu menjadikan Hollandia sebagai Basis G, dilengkapi dengan sembilan galangan kapal (dock), fasilitas militer, rumah sakit, gudang, toko, dan tempat hiburan,” tuturnya. (SM01)

 4 total views,  4 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan