Walikota Jayapura Tawarkan Solusi , Untuk 2 Kampung Yang Bertikai

Suaramambrukdotcom –Tiga hari pasca bentrok antar kampung Enggros dan Kampung Nafri yang berbuntut 11 orang terluka dan rusaknya sejumlah kendaraan serta pondok wisata di daerah pantai Holtekam, Situasi telah kembali kondusif.

Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano, saat di hubungi redaksi Topik, mengatakan bentrok antar kampung Enggros dan Tobati pada, Kamis, 10 September 2020 akan diselesaikan di para-para adat.“Saya sudah bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat kedua kampung, dan saya berharap mereka dapat menahan diri untuk tidak melakukan aksi yang akan merugikan masyarakat kedua kampung tersebut,” kata BTM sapaan akrab Walikota, Minggu (13/09/20).

BTM juga menjelaskan bila sehari pasca kejadian, dirinya bersama Kapolresta jayapura Kota dan sejumlah tokoh juga telah bertemu dengan masyarakat di kampung Nafri dan meminta agar palang jalan di buka.

“kami kesana bersama kapolresta, dan ada tiga palang di kampung nafri yang masyarakat buat, saya bicara dengan mereka dan palang sudah di buka, saya juga inta agar semua masalah ini kita selesaikan baik di para-para adat, “Jelas BTM.

Menurut BTM, pihaknya siap memfasilitasi proses mediasi. “Proses mediasi nantinya akan difasilitasi oleh Pemerintah Kota Jayapura,” ujarnya.

Dikatakan, proses mediasi di para-para adat tersebut akan dilakukan setelah para korban sembuh, “Ada tujuh korban dari pertikaian tersebut yang tersebar di RS Angkatan Laut, RS Bhayangkara, dan RSUD Jayapura. Semua pembiayaan korban tersebut ditanggung oleh wali kota Jayapura,” tegasnya.

Sebelumnya, Kapolresta jayapura kota, Akbp Gustav R Urbinas mengatakan walau proses perdamaian antar kedua kampung akan segera di lakukan, namun tindakan pidana yang di lakukan oleh warga kedua kampung harus di proses hukum.

“yang jelas hukum akan kami tegakan kepada siapa yang berbuat apa, proses hukum harus di tegakan kepada pihak-pihak yang melakukan tindak pidana, “Kata Kapolresta, Jumat (11/09/20).

Ia pun menuturkan dalam insiden itu jumlah korban luka sebanyak 11 orang yang kini masih dalam perawatan medis di tiga rumah sakit yakni RSUD Dok II, Angkata Laut dan RS Bhayangkara.

“Selain 11 korban luka, dari catatan kami pasca kejadian itu ada dua mobil dan dua motor yang rusak serta 13 pondok wisata rusak, lima diantaranya dibakar,”  ucapnya.

Masalah Batas Tanah Adat, Dua Kampung di Jayapura Perang, 7 Terluka, 2 Mobil dirusak

Sebelumnya Dua kampung besar di  kota jayapura terlibat aksi saling serang di daerah pantai Holtekam kota Jayapura, kamis siang. Akibat peristiwa ini tujuh warga di laporkan terluka dan dua unit mobil rusak.

Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw yang terjun langsung ke lokasi kejadian mengatakan kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 14.oo wit.

“Kejadian ini terjadi siang tadi sekitar pukul 14.00 wit, sudah ada riak-riak ya.., antara dua pihak warga yang mengkleim batas tanah adat, “Kata Kapolda kepada Pers usai meninjau lokasi kejadian, Kamis (10/09/20).

Dijelaskan Kapolda, dua kampung yang bertikai adalah kampung Enggros dengan kampung Nafri, awal pertikaian menurut nya ada pihak yang sudah memberikan patok batas tanah, kemudian pihak yang lain datang mencabut patok itu.

“ Inilah yang membuat awalnya terjadi kesalahpahaman, kemudian terjadi saling pukul dan saling serang yang kemudian mengakibatkan ada yang terluka, “Jelas Kapolda tanpa mengurai pihak mana yang mencabut patok.

Irjen Paulus mengakui hingga kini pihaknya dan juga pihak pemerintah daerah tidak bisa menentukan batas wilayah tanah adat, karena di ketahui daerah holtekam di huni oleh banyak suku di kota jayapura

“Memang sepanjang jembatan ini sampai ke arah holtekam sana, catatan-catatan persoalan adat yang memang agak sulit untuk kita tengahi, karena kedua belah pihak sama-sama mengklaim, baik suku enggros maupun suku nafri, disini juga ada suku tobati, belum lagi suku skow dan sebagainya, semua punya akses disini, “Beber Kapolda.

Lanjutnya, Kalau di lihat dari tatanan kehidupan adat itu ada yang memiliki kebun, ada yang mencari ikan dan sebagainya, dan ini ada struktur-struktur yang harus diakui, siapa yang pemilik, siapa yang mencari dan siapa yang hidup dengan tanah ini, “dan ini sudah terjadi turun temurun dan mereka sudah saling memahami itu, “Ungkapnya.

Terkait masalah ini Kapolda mengaku akan memangil para tokoh adat, baik dari pihak Enggros maupun pihak suku Nafri.

“Masalah ini biasanya kita akan selesaikan di para-para adat, nanti kami akan coba mediasi antara kedua pihak yang bertikai, kita akan undang para kepala suku, ondoafi, ketua LMA dan juga dari pihak pemerintah daerah agar bisa di selesaikan dengan baik, “Kata Kapolda.

Akibat peristiwa ini jalur jalan raya dari dan ke kota Jayapura – kabupaten Keerom yang melintas jembatan Youtefa sempat di palang massa selama 3 jam lamanya.

Pemalangan di buka setelah Kapolda bernegoisasi dengan warga.

“Tadi saya juga sudah bicara dengan teman-teman dari nafri yang sempat menghalangi jalan ini dan mereka sepakat buka akses namun akan tetap berada di lokasi kejadian karena ada informasi kepala suku mereka juga menjadi korban, “Pungkas Kapolda. 

 3 total views,  3 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan