Kemendikbud : Daring Jadi Ancaman Putus Sekolah Di Papua

Fok Dok : Suaramambruk.com

Suaramambrukdotcom –Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga menggelar survei kepada guru, kepala sekolah, orang tua, dan para siswa terkait evaluasi belajar dari rumah. Hasilnya, mayoritas siswa mengalami hambatan dan kesulitan dalam memahami pelajaran.

“Mayoritas mengalami kesulitan memahami pelajaran, kurang konsentrasi, tidak dapat bertanya langsung kepada guru, sehingga kebiasaan-kebiasaan dari tatap muka bisa interaksi langsung, memahami mata pelajaran langsung dari guru, ketika belajar dari rumah itu membutuhkan perjuangan yang cukup tinggi. Dan anak memang mengaku kesulitan memahami pelajaran ini cukup banyak,” kata Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno dalam rapat dengan Komisi X DPR, Kamis (9/7/2020).

Anak-anak perempuan mengaku lebih kesulitan dalam pembelajaran daring, meskipun anak perempuan dinilai memiliki kemampuan belajar mandiri lebih baik dibandingkan anak laki-laki. Para siswa, disebut Totok, mayoritas juga tidak setuju dengan metode belajar jarak jauh.

“Persepsi siswa tentang belajar dari rumah ini pada umumnya tidak setuju. Mayoritas tidak setuju. Konsisten dengan mahasiswa tadi, mereka tetap lebih senang belajar tatap muka di sekolah, meski kalau laki-laki lebih dari 40 persen bahwa belajar dari rumah lebih menyenangkan,” ujarnya.

Selain itu, Totok mengungkapkan ada kekhawatiran dari para guru di Papua soal belajar jarak jauh. Para guru khawatir para siswa tidak mau lagi kembali ke sekolah setelah metode belajar dari rumah (BDR) ini.

“Yang kami terima informasi dari Papua ketakutan akan kemungkinan putus sekolah. Para guru khawatir setelah BDR ini anak tidak kembali lagi ke sekolah. Ini salah satu isu kebijakan yang perlu kita tangani atau kita cegah sebelum ancaman putus sekolah ini betul-betul terjadi,” ungkap Totok.

Untuk proyeksi ke depan, Totok mengatakan para guru akan diminta melakukan asesmen untuk memetakan variasi capaian belajar siswa. Terutama, kata Totok, untuk menyiapkan transisi belajar di rumah menuju pembelajaran normal di sekolah.

“Hasil asesmen menjadi dasar pilihan strategi belajar yang diambil. Prioritas afirmasi perlu diberikan kepada kelompok yang paling rentan mengalami kehilangan pengalaman belajar. Itu kemungkinan besar juga bisa kelompok anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu,” ujarnya.

Kemendikbud juga tengah menyiapkan modul untuk memudahkan para siswa yang tidak terjangkau internet. Totok juga mendorong adanya peningkatan interaksi dengan orang tua selama pembelajaran jarak jauh agar menjadi lebih optimal.

“Interaksi orang tua hal yang bagus, saya kira perlu didorong jadi kebiasaan baru nanti kalau selama ini barangkali interaksi hanya untuk hal-hal administratif, perlu ditingkatkan untuk hal-hal yang substantif terkait optimalisasi proses belajar dan kesejahteraan psikologis atau well-being siswa,” kata Totok ( SM01)

 

 2 total views,  2 views today

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan