Xanana Gusmao Kembali Memimpin Timor Leste

Suaramambrukdotcom — Pahlawan kemerdekaan Timor Leste, Xanana Gusmao, kembali terpilih jadi Perdana Menteri (PM) Timor Leste dalam pemerintahan koalisi enam partai. Hal itu telah disampaikan juru bicara koalisi kepada Presiden Francesco Guterres dalam sebuah surat, Selasa (10/3/2020).

Presiden pertama dan mantan perdana menteri Timor Leste itu bulan lalu mengumumkan ia telah membentuk koalisi baru yang mengendalikan 34 dari 65 kursi parlemen. Ia pun mengatakan ia bersiap untuk membentuk pemerintahan baru seperti dilansir dari Al Jazeera.

Negara kecil di Asia Tenggara itu menghadapi ketidakstabilan politik sejak jatuhnya sebuah koalisi yang mendukung Perdana Menteri Taur Matan Ruak. Ketegangan telah memuncak dalam demokrasi yang baru lahir atas ketimpangan pendapatan dan pengangguran yang tinggi.

 

(Pemimpin sayap militer Front Revolusioner untuk Timor Timur )

Gusmao (73) memimpin sayap militer Front Revolusioner untuk Timor Timur Merdeka, yang berperang melawan pemerintah Indonesia, sempat dipenjara di Jakarta, namun tetap terus memimpin perjuangan untuk kemerdekaan Timor Leste dari balik jeruji besi. Setelah warga Timor Leste memilih merdeka dalam referendum yang didukung PBB pada tahun 1999, Gusmao kembali ke tanah airnya sebagai pahlawan dan terpilih sebagai presiden pertama negara itu pada tahun 2002. Ia kemudian menjabat sebagai perdana menteri dari tahun 2007 hingga mengundurkan diri pada Februari 2015.

Timor Leste adalah salah satu negara termiskin di dunia. Ketika memilih merdeka dari Indonesia pada tahun 1999, lebih dari 80 persen infrastruktur negara itu telah hancur. Negara ini merdeka sepenuhnya pada tahun 2002 setelah tiga tahun pemerintahan PBB dan tetap sangat bergantung pada minyak serta gas, yang menyumbang 78 persen dari APBN 2017.

Situasi Politik Timur Leste Memanas

( Kunjungan Presiden Jokowi Ke Dilli , Timor Leste)

Sebelumnya Perdana menteri Timor Leste Taur Matan Ruak telah mengirim surat pengunduran diri kepada presiden pada Selasa 25 Februar 2020, ketika negara kecil Asia Tenggara itu menghadapi ketidakstabilan politik baru setelah runtuhnya koalisi yang mendukungnya di parlemen.

Perdana menteri telah berulang kali gagal mendapatkan pengesahan anggaran untuk tahun 2020, setelah partai terbesar dalam koalisinya, partai Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste (CNRT) pahlawan kemerdekaan Xanana Gusmao, menarik dukungan.

“Saya telah mengirim surat (pengunduran diri) kepada presiden,” Taur Matan Ruak, yang menggunakan nama populer alih-alih nama kelahirannya Jose Maria de Vasconcelos, mengatakan kepada wartawan setelah bertemu dengan Presiden Francisco Guterres.

Dilansir dari Channel News Asia, Selasa (25/2/2020), Ruak mengatakan dia siap untuk tetap menjabat sampai pengunduran dirinya diterima “untuk menjamin kegiatan pemerintah di negara kita”.

Dia telah didukung oleh koalisi tiga partai, Aliansi Perubahan untuk Kemajuan (AMP), yang memenangkan 34 dari 65 kursi untuk diperebutkan dalam pemilihan parlemen pada Mei 2018, negara kelima sejak kemerdekaan dari Indonesia pada tahun 2002.

Tetapi sesekali ada jalan buntu politik dan ketegangan yang meningkat setelah presiden, yang merupakan anggota partai oposisi Fretilin, menolak beberapa menteri yang diusulkan oleh Gusmao, karena tuduhan korupsi.

Pada hari Sabtu, Gusmao, presiden pertama Timor Lorosa’e dan mantan perdana menteri, mengumumkan koalisi enam partai baru yang mengendalikan 34 kursi tanpa partai Ruak yang menurutnya akan mempersiapkan pembentukan pemerintahan baru.”Ini diatur untuk menyelesaikan kebuntuan politik saat ini,” katanya dalam konferensi pers, “Keenam partai politik ini bertemu untuk bersatu guna melanjutkan dan membentuk pemerintahan baru.”

Demokrasi termuda di Asia telah dilanda ketidakstabilan politik dalam beberapa tahun terakhir, menghambat upaya untuk mengurangi kemiskinan, memberantas korupsi dan mengembangkan sumber daya minyak dan gas yang kaya.

9 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan