Catatan Wallace tentang Misonaris Ottow-Geissler Di Tanah Papua (1858)

 

Bagian Lain dari buku  Alfred Russel Wallace : The Malay Archipelago

Riwayat kedatangan dan peran dua misionaris atau penginjil Carl Williem Otto dan Jhon Gottlob Geissler (sering disingkat Ottow-Geissler) ke Papua pada tanggal 5 Februari 1855 memiliki nilai sejarah yang paling dalam bagi orang Papua. Tergambar  dari banyaknya tulisan tentang dua tokoh tersebut sejak kecil dan remaja, kedatangan ke Indonesia (Hindia Belanda), mampir di Ternate, hingga berlabuh di Pulau Mansinam Manokwari. Bapak  peradaban bagi orang Papua ini diperingati sangat hidmat setiap tahunnya.

Tapi kali ini berbeda, saya menulis tentang pertemuan Alfred Russel Wallace (disingkat Wallace) dengan Ottow-Geissler di pulau Mansinam pada tahun 1858 . Diungkap dalam sebuah buku: The Malay Archipelago. Di dalamnya juga tentang kondisi Kampung Dorey dan penduduk asli pada zaman old. Kini Dorey berubah menjadi kota Manokwari.

***

Siapa yang tidak mengenal Alfred Russel Wallace seorang penjelajah sekaligus ahli biologi dunia. Bahkan dalam pengembaraannya dia dikategorikan seorang antropolog karena mampu mengidentifikasi ciri dan karakter suku-suku yang ditemuinya termasuk di Indonesia kala itu. Sebenarnya “Teori Seleksi Alam” dari Charles Darwin adalah hasil temuan Wallace. Banyak penghargaan internaional yang diperoleh atas pengakuan ilmu di bidang flora dan fauna.

 

Menuju Dorey Papua

Penjelajah yang lama bermukim di Ternate itu sangat penasaran dengan cerita dari Sultan Ternate dan para pedagang dari Papua tentang burung Cenderawasih. Burung yang memiliki buluh sangat indah dan hanya ada di Papua.

Maka berangkatlah ia dari Ternate pada 25 Maret  1858 bersama empat orang pembantunya (Ali, Jumaat, Lahagi, dan Loisa) menggunakan perahu layar menyusuri pantai utara Papua. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan informasi kebaradaan fauna dan flora di pulau yang paling besar yang pernah dikunjunginya.

Terutama jenis-jenis burung, mamalia dan serangga. Berbagai hambatan dan rintangan selama perjalanan akhirnya mereka berlabuh di sebuah pulau kecil, yang mereka didengar bernama Mansinam pada tanggal 10 April 1858.

 

Dijemput Mr. Otto ke Rumahnya

Mereka menambat perahu agak jauh dari pantai sambil mempelajari situasi dari sekitar pulau. Dari arah daratan pulau Mansinam seorang berkulit putih dengan perahunya, memperkenalkan diri bernama Otto menyambut kedatangan tamu yang belum dikenalnya itu.

Otto mengundang Wallace ke pantai dan sarapan bersama di rumahnya tidak jauh dari bibir pantai pulau Mansinam. Di rumah Otto memperkenalkan rekannya bernama Geisler. Dalam buku diceritakan bahwa Geisler sudah enam bulan berdiam di rumah karena tumitnya mengalami luka yang tidak sembuh-sembuh (abses).

Diceritakan dalam buku tersebut, mereka kebanyakan menggunakan bahasa isyarat — karena Otto dan Geisler tidak bisa berbahasa Inggeris dan Melayu — Wallace sangat heran dan kagum dengan kedua misionaris dari Jerman tersebut. Datang jauh dari negaranya hanya untuk melakukan kegiatan mengajarkan firman Tuhan di tengah penduduk yang benar-benar belum mengenal dunia luar, masih sering saling membunuh, jauh dari sikap bersahabat, dan sulit menerima pendatang baru.

Misi mereka ingin melakukan perubahan ke arah peradaban yang lebih maju. Dengan demikian tentu memerlukan kesabaran dan ketekunan yang tinggi untuk menaklukkannya.

Kurun waktu dua tahun di Mansinam Mr. Otto — menurut cerita Wallace, telah belajar bahasa Papua dengan fasih dan mulai menerjemahkan beberapa ayat dari Kitab Injil. Akan tetapi, kata dalam bahasa Papua terbatas sehingga dalam terjemahan sejumlah kata Melayu harus digunakan.

Dari Injil yang diterjemahkan bagi kedua misionaris tersebut masih ragu apakah mungkin bisa mengikuti ajaran yang disampaikan, mengingat orang-orang tersebut peradabannya sangat rendah. Mereka memiliki kepercayaan agama tradisi. Awalnya, orang-orang yang masuk Kristen sangat sedikit, di antaranya adalah anak-anak sekolah yang diajar membaca. Itu pun kemajuan yang mereka peroleh sangat minimalis.

 

Membantu Penduduk Papua dalam Jual-Beli

 

Masih dalam halaman 711-712 buku tersebut, tentang dibolehkan kegiatan jual-beli yang dilakukan oleh kedua misionaris (Ottow dan Geissler) untuk menopang kehidupan mereka selama melakukan missi di sekitar kampung-kampung Dorey (penyebutan kota Manokwari waktu itu). Karena diketahui bahwa gaji mereka sangat kecil dikirim dari Eropa dan lama sampai ke Papua karena faktor transportasi kala itu.

Hasil panen padi penduduk dijual kepada misionaris dengan memperoleh pisau, manik-manik, kapak, tembakau atau barang-barang lain. Namun beberapa bulan kemudian, jelang musim hujan ketika bahan-bahan makanan langka, para penduduk kembali untuk membeli barang-barang yang telah dijual tadi dengan menggunakan alat tukar kulit penyu, teripang, pala hutan, atau benda lainnya. Tentu, beras tadi dijual lebih mahal oleh misionaris dibanding ketika dibeli.

 

Misionaris diibaratkan sebagai tempat penyimpanan logistik penduduk Dorey dan dipasarkan ketika musim paceklik. Kegiatan seperti di atas sangat menguntungkan bagi penduduk asli Papua, yang sering tidak makan jika tidak ada persediaan dan membuang bahan makanan ketika melimpah, dan kemudian kelaparan lagi.

Ada proses pembelajaran ketahanan pangan kepada penduduk lokal Dorey dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku secara perlahan-lahan. Hasilnya, beberapa penduduk sudah mulai paham bahwa untuk bertahan hidup harus bisa mengatur mana bahan makanan untuk dikonsumsi sendiri dan kelebihannya dijual.

Cerita Kampung Dorey

Selain pertemuan dengan Mr. Otto dan Mr. Geisler — demikian Wallace memanggil mereka, juga tentang kondisi Kampung Dorey (Manokwari sekarang). Disebutkan, pelabuhan Dorey berada di teluk yang indah dengan dua atau tiga pulau kecil,  membentuk sebuah tempat berlabuh yang terlindung. Satu-satunya kapal berlabuh pada saat itu adalah kapal Belanda yang sarat dengan batubara untuk keperluan kapal perang.

Wallace dan para pembantunya mendarat pada malam hari di Kampung Dorey untuk mencari tempat untuk membangun rumah. Mr. Otto meminta kepada kepala suku setempat untuk mengerahkan anggotanya untuk memotong kayu, rotan, dan bambu.

Di mana Wallace membangun pondokan? Digambarkan dalam buku tersebut bahwa memilih tempat 200 meter dari pantai di tanah yang tinggi, di sisi jalan utama kampung Dorey yang menuju hutan. Sekitar 20 meter ada aliran sungai yang mengalirkan air yang jernih untuk mandi. Sebagai upah bekerja dibayar dengan pisau dan parang kepada penduduk asli tersebut, selanjutnya disuruh mereka pergi.

Pada awalnya Wallace sangat merasa sedikit curiga dengan penduduk asli sehingga tidur dengan membawa senapan yang diisi peluru di sisinya. Namun setelah beberapa hari baru yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah. Boleh jadi ini disebabkan komunikasi yang baik dan terus menerus antara Otto-Geisler dengan penduduk Dorey selama dua tahun.

Yang mengagumkan peneliti biologi itu adalah kemahiran orang Dorey membuat ukiran di dalam rumah dan di perahu. Tidak menyangka orang terbelakang seperti itu mampu membuat ukiran yang demikian indah. “Mereka adalah pemahat dan pelukis besar,” kata Wallace.

Tentang pemukiman Kampung Dorey, Wallace membeberkan bahwa semua rumah dibangun di atas air, dan dicapai dengan jembatan kasar dan panjang. Rumah itu sangat rendah dengan bentuk atap seperti perahu besar. Tiang rumah dan jembatan ditopang dengan tongkat kecil tidak beraturan, tampak seperti akan roboh. Lantai juga terbuat dari tongkat, tidak teratur dan sangat longgar.

 

Dindingnya terdiri dari potongan papan kapal tua, tikar rapuh, dan daun kelapa. Nampak sangat semrawut sehingga sulit untuk digambarkan. Wallace sempat tercengang melihat di bawah atap rumah tergantung tengkorak manusia hasil pertempuran mereka dengan suku-suku pegunungan yang kerap datang menyerang.

Selama dua bulan tinggal di Kampung Dorey Wallace pernah terserang demam panas, dan dua pembantunya yang dibawa dari Ternate, Jumaat dan Lahagi meninggal dunia karena diserang malaria. Mereka dikebumikan secara Islam oleh warga muslim di sana dengan diberi kain katun untuk kain kafan.

Bagaimana tentang keberadaan burung cenderawasih di Dorey? Ternyata di daerah itu tidak ditemukan burung tersebut apalagi dalam bentuk sudah diawetkan oleh masyarakat setempat. Disebutkan populasi cebderawasih yang banyak adalah di Amberbaki (sebutan Amberbaken) karena ditemukan enam spisies cenderawasih.

 

Teruangkap dalam Buku The Malay Archipelago

Akhirnya pada tanggal 29 Juli 1858 (3,5 bulan) meninggalkan Dorey kembali ke Ternate. Karena misi penelitian tentang fauna dan flora Papua dianggap selesai walaupun burung “surga” Cenderawasih hanya beberapa spesies yang berhasil ditemukan. Untuk melengkapi temuan akan burung Cenderawasih akhirnya kembali berlayar dari Seram ke Waigeo, Misol, Batanta, dan Salawati di Raja Ampat pada bulan Juni-Juli 1860.

Pulang ke negaranya Inggeris setelah menjelajah Nusantara (Malay) 1854-1862, Alfred Russel Wallace Alfred Russel Wallace menemukan “Garis Imajiner” yang membagi flora dan fauna di Indonesia menjadi dua bagian besar. Garis ini dikemudian hari dikenal sebagai “Garis Wallace”. Yaitu adanya kesamaan flora dan fauna bagian timur Indonesia dengan Australia.

Demikian juga di bagian barat Indonesia memiliki kemiripan dengan flora dan fauna dari Asia. Hasil penelitian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul: The Malay Archipelago yang dialihbahasakan menjadi “Sejarah Nusantara”.

Yang menarik diteleisik dalam buku 856 halaman itu adalah ekspedisi yang dilakukan olehnya ke wilayah Papua yaitu diletakkan pada BAB 34: New Guenea: Dorey (Maret hingga Juli 1858). Lebih lengkap baca bukunya. Semoga.

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *