Johanna Regina Uitenbogard ,Wanita Belanda Berhati Papua

Ditulis Oleh :Joe Stefano – Anak Guru Jemaat GKI Di Tanah Papua

(Disadur dan digubah dari sumber buku : Hanz Wanma, Domine Izak Samuel Kijne, Mengenang Hidup dan Karyanya Untuk Tanah dan Bangsa Papua, JW Press, 2016)

 

Di awal kehidupannya di Bukit Aitumeri Miei 1932, Johanna Regina Uitenbogard( Jopie )hidup dalam keadaan serba terbatas, Jopie kadang teringat sanak keluarga dan orang tuanya yang segala kebutuhan dan kebutuhan cukup terpenuhi di Vlaardingen Negeri Belanda. Ditangkap dan Diasingkan serta melahirkan dalam tahanan pun tak pernah menyurutkan niat dan langkahnya untuk selalu setia mendampingi Izaak Samuel Kijne membangun Peradaban Bangsa Nieuw Guinea ( Papua ). Perannya sangat besar menajadi “Mama” yang mendidik anak-anak Papua dan membantu suami mengaransemen dan menciptakan lagu-lagu gereja.

Setelah mengabdi di Mansinam dan Miei sejak tahun 1923-1932, Izaak Samuel Kijne mengambil cuti kembali ke kampung halamannya Vlaardingen Negeri Belanda sekaligus meminang gadis pujaannya Johanna Regina Uitenbogard. Setelah menikah, Johanna Regina dan Isack Samuel langsung berangkat sambil menikmati bulan madunya melintasi Samudera Raya menuju negeri manusia berkulit hitam di Lautan Teduh ( Pasifik ).

 

Nieuw Guinea di Lautan Teduh merupakan sebuah tempat asing bagi tokoh Regi dalam cerita Kota Emas ini. Sejak kecil hingga dewasa, Johanna Regina belum pernah melakukan perjalanan jauh keluar negaranya Belanda, namun karena kecintaan dan kesetiaan mendampingi pekerjaan suami mengikuti panggilan Tuhan, dia pun rela meninggalkan semua kehidupannya yang berkecukupan di negeri kincir angina.

 

Biografi Johanna Regina Uitenbogard

Johanna Regina Uitenbogard dikenal dengan nama panggilan Jopie. Lahir Di Arnhem pada tanggal 20 Pebruary 1907 dari keluarga Belanda taat agama Kristen . Jopie kecil bercita-cita menjadi guru agar kelak dapat mendidik anak-anak di kampung halamannya di Belanda, sehingga dia memutuskan masuk sekolah guru ( Kweek School ), namun di tengah perjalanan pendidikannya, orang tuanya tidak menghendaki hal tersebut dan membatalkan sekolah.

 

Jopie sangat mencintai music, dia pandai bermain Piano dan memahami dengan baik berbagai jenis music dan lagu, suaranya sangat merdu. Kesehariannya dihabiskan dengan berlatih music dan lagu. Jopie adalah seorang Soliste di gedung Kom En Zie, dia juga dapat menyanyikan Cretoria di dalam Toonkunstkoor.

 

Dalam sebuah Konverenzi Zending di Lunteren Belanda tahun 1932, Jopie bertemu dengan seorang pemuda yang waktu itu mengabdikan dirinya di Tanah Nieuw Guinea, Izaak Samuel Kijne. Berkenalan selama 6 bulan, Jopie dan Izaak mengambil keputusan untuk menikah pada bulan September 1932. Setelah menikah, Jopie mengkikuti suaminya Izaak Samuel Kijne mengarungi samudera dari Roterdaam menuju Wondama dan mentap di Bukit Aitumeri.

 

Mama Nyora Untuk Anak-Anak Papua Di Bukit Aitumeri

Di bukit Aitumeri, Izaak Samuel Kijne memiliki sebuah rumah yang bagus, disitulah Jopie tinggal mendampingi suaminya bekerja mendidik anak-anak Papua. Rumah mereka sangat asri, Jopi sendirilah yang mendekorasi seisi rumah dengan souvenir-souvenir dan gorden yang terbuat dari bahan alami seperti seperti ranting bamboo dan kayu disekitar rumah mereka.

 

Selain mengurus rumah dan belum dikarunia anak, tugas Jopie yang lain adalah membantu suaminya mengurus anak-anak yang berperan sebagai Mama untuk Tom Wospakrik dan F.J.S.Rumainum serta beberapa anak lain dari luar Wondama diangkat oleh Jopie dan Izaak sebagai anak mereka. Wospakrik dan Rumainum tidak memanggil mereka sebagai Tuan dan Nyonya tetapi memanggil Jopie dan Izaak dengan sebutan Bapa dan Mama. Membantu suami mengurus anak-anak, Jopie bertugas menjaga, mengawasi dan mengasuh mereka.

 

Sebagai istri Guru dan Pendeta, Jopie berperan Mama Nyora untuk memberikan teladan sebagai seorang Mama. Sebagai Mama Nyora berarti menjadi Mama untuk seluruh siswa di Sekolah dan juga Mama untuk seluruh Jemaat. Tugas ini diemban dengan baik dengan penuh sukacita.

 

Walau demikian, sebagai seorang perempuan ditengah situasi yang baru dengan medan pelayanan yang berat dan serba terbatas, Jopie kadang teringat sanak saudara dan orang tuanya di Belanda, mereka hidup dalam keadan serba berkecupuan dibandingkan dirinya di Aitumeri.

 

Kondisi alam dan manusia yang berat serta banyak keterbatasan di awal kehidupan bersama Kijne di Aitumeri tidak menyurutkan semangatnya. Jopie selalu memegang teguh ajaran setia dan dengar-dengaran kepada suami. Mereka selalu bergumul dan berdoa untuk kemajuan pekerjaan Tuhan yang diemban oleh mereka.

 

“ Bukt Aitumeri merupakan sebuah tempat dimana saya dan suami bergumul bagi masa depan Tanah Nieuw Guinea, sebuah tempat yang bagi ku adalah awal mula peradaban orang Papua yang harus berhadapan dengan suatu tantangan demi kemajuan sebuah Bangsa Yang Besar Dalam Sebuah perjalanan yang panjang “ Johanna Regina Uitenbogard dalam kenangan.

 

Tidak hanya membantu suami mengurus anak-anak dan sekolah tetapi juga menjadi teladan bagi perempuan-perempuan di sekitar Teluk Wondama dalam hal tata karma dalam menyapa di jalan, mengurus rumah dan pekarangan, menanam bunga, serta mendidik anak-anak perempuan yang tinggal di rumahnya sebagai anak angkat maupun yang bersekolah.

 

Selain itu, Jopie juga mengajarkan perempuan-perempuan dan laki-laki untuk bernyanyi dan menguasai not balok. Mereka berlatih paduan suara dan bernyanyi dengan suara yang sangat merdu. Jopie sangat mengasihi anak-anaknya, Jopie menempatkan dirinya sebagai guru dan mama bagi anak-anaknya.

 

Nyanyian Rohani dan Dongeng Kota Emas

I.S.Kijne memilik nama besar yang disejajarkan dengan ilmuwan besar di negeri Belanda karena tugas, pengabdian dan karya-karyanya di Tanah Papua. Karya-karya terbesar Kijne di bidang Music dan Seni suara adalah Nyanyian Rohani dan Mazmur yang dipergunakan oleh seluruh gereja di Hindia Belanda ( Indonesia ), selain itu lagu-lagu rohani seperti Suara Gembira, dan lain-lain yang ditulis dan diterjemahkan ke dalam bahasa Byak,Wondama dan sebagainya.

 

Karya terbesar I.S.Kijne lainnya adalah Nyanyian Seruling Emas yang menjadi Lagu Kebangsaan Negara Papua yakni Hai Tanah Ku Papua dan Dari Ombak Besar. Selain itu, beberapa buku yang dihasilkan salah satunya Dongeng Kota Emas.

 

Jopie yang adalah seorang musisi, penyanyi memberikan kontribusi yang sangat banyak terhadap karya-karya Kijne. Jopie sangat membantu dalam menyusun notasi dan juga lirik-lirik lagu. Jopie juga dijadikan tokoh oleh Kijne sebagai Regi yang berteman dengan Tom ( Tom Wospakrik ) dalam Dongeng Kota Emas. Tom dan Regi berbeda culture dan ras dan peradaban, harus hidup bersatu dan damai agar bisa masuk ke Kota Emas.

 

Ditangkap dan Melahirkan Dalam Tahanan

 

Jopie setia mendampingi suaminya I.S.Kijne menjaga, mengawasi, mengasuh dan mendidik anak-anaknya di sekolah dan rumah selama 9 tahun sejak tahun 1932 sampai tahun 1941. Keduanya pun mengambil cuti pendek berlibur ke Malang Jawa Timur.

 

Ketika sedang berlibur, pecah Perang Dunia II tahun 1942, nasib naas menimpa mereka, Jopi dan suaminya Kijne ditangkap oleh Tentara Nippon ( Japan ) yang sudah melakukan invasi ke Hindia Belanda ( Indonesia ). Mereka ditangkap di Malang dan diasingkan di Balige Sumatera Utara.

 

Jopie dan suaminya ditawan di tempat yang berbeda, mereka harus hidup terpisah selama 3 tahun dalam pengasingan (1942-1945). Jopie yang ketika itu sedang mengandung anaknya yang pertama, harus berjuang sendiri dalam pengasingan dan melahirkan anak perempuannya yang pertama Maria Caroline Kijne.

 

Jopie menuturkan, ditawan di Balige merupakan sebuah pengalaman hidup yang paling mengesankan bagi dirinya, hanya karena demi Orang Papua, dia, suami dan anaknya Mieke harus berada dalam sebuah kehidupan yang penuh tantangan dan berat.

 

Menjadi Mama Untuk Anak-Anak Papua ( Joka dan Serui 1948-1958 )

Perang Dunia II berakhir September 1945, Jopi dan suaminya bebas dari tawanan namun harus bertugas sementara di Medan selama 6 bulan sambil menunggu keberangkatan ke Tanah Papua. Tahun 1946, Keduanya berangkat ke Papua menghadapi suatu tugas baru sangat berat karena akibat dari Perang Dunia II sekolah-sekolah dan gereja mengalami rusak berat.

 

Banyak Zendeling dan guru-guru Ambon serta Sangihe yang menjadi korban keganasan tentara Nippon, Sekolah-sekolah dan gereja hancur karena Bom. Tenaga pendidik dan Zendeling tercerai berai, kehidupan ekonomi semakin sulit. I.S.Kijne harus membangun kembali puing-puing peradaban yang sudah hancur. Tugas baru yang cukup berat, namun Jopie selalu setia mendampingi suaminya membangun masa depan Bangsa dan Tanah Papua.

 

Miei Ditutup, Kijne memindahkan pusat pendidikan di Joka dan Harapan ( Kota Nica ) Sentani. Jopie yang terbiasa dengan Bukit Aitumeri harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, sama-sama tanah dan orang Papua tapi berbeda-beda budaya,adat istiadat dan karakter hidup. Dari kehidupan di Wondama, Jopie harus menjadi Perempuan Sentani ( Phuyaka Mengge ).

 

Mendirikan Joka institute dan sekolah-sekolah lain dengan pola asrama, Jopie melaksanakan tugasnya yang sama namun kali ini lebih berat karena anak-anak yang bersekolah di Joka bukan lagi anak-anak dari Sentani saja tetapi dari seluruh Tanah Papua dididik disana, termasuk mereka yang harus melanjutkan sekolah dari Miei.

 

Melayani bersama I.S.Kijne di Joka, mereka dikarunia seorang anak laki-laki yang lahir di Joka, Jan Willem Kijne.

 

Setelah melaksanakan tugas di Joka, Jopie harus mengikuti Kijne ke Serui untuk mendirikan Sekolah Theologia RAZ yang kemudian bernama STT.GKI I.S.Kijne. Tugas yang sama dilakukan sama seperti di Miei dan Joka, Jopie menjadi Guru dan Mama bagi anak-anak sekolahnya. Mama Kijne telah menjadi Mama untuk seluruh anak-anak Papua maka layak disebut Mama Papua.

 

Jiwa dan Roh Kami Ada Di Papua

Sebelum Kijne mengakhiri masa tugasnya di Tanah Papua 1958, Jopie,Mieke dan Jan Willem sudah terlebih dahulu meninggalkan Tanah Papua kembali ke Belanda. Jopie dan suaminya walau sudah berada di Belanda namun selalu merindukan Tanah Papua. Jopie selalu mengikuti perkembangan informasi dan mencari tahu perkembangan anak-anaknya.

 

Ketika Ketua Sinode GKI Di Tanah Papua Herman Saud berkesempatan untuk mengunjungi Mama Jopie di Leiden tahun 1987, Mama Jopie sangat girang menyambut kedatangannya dan menanyakan seluruh perkembangan Tanah Papua baik gereja, adat maupun pemerintah. Mama Jopie sangat antusias sekali mendengar penjelasan tentang Masa Depan Tanah dan Bangsa Papua.

 

Dengan tenang mendengarkan penjelasan Pdt.Saud, Mama Jopie yang sudah berumur 80 tahun kala itu merasa gembira bercampur sedih, matanya menerawang membisu sambil mengucurkan air mata, sederet kata-kata terujar dari mulutnya “ Saya dan Suami, kami hanya berbuat sedikit saja untuk Orang Papua. Kami berharap Anak-Anak Papua berbuat lebih banyak lagi dari yang pernah kami lakukan”.

 

Di usianya yang senja di Leiden, Jopi dan Isack selalu terkenang akan Tanah,Bangsa dan Anak-Anaknya di seberang Lautan Teduh Papua, mereka selalu berkata “ Tubuh Jasmani kami sekeluarga memang ada di Negeri Belanda, tetapi Jiwa dan Roh kami ada di Tanah Nieuw Guinea.

 

Selasa 19 Maret 2002, pada usia 95 tahun, di rumahnya di Leiden, Mama Papua Jopie Johanna Regina Uitenbogard pergi untuk selamanya menghadap sang penciptanya. Mewakili seluruh anak-anaknya, Jan Willem yang lahir di Jka menyampaikan sambutan dan mengisahkan riwayat hidup sang Mama yang telah melalui jalan panjang mendaki, menurun memasuki lembah dan hutan di Tanah Papua. Apabila tahun-tahun tropic dilipat gandakan maka usia Mama Jopie sebenarnya berusia 125 tahun.

 

Tanah Papua dan alamnya yang liar telah merengut 30 tahun usia Mama Jopie, kini Mama yang dengan setia dan penuh kasih sayang mendidik dan membesarkan anak-anak Papua menuju perdaban baru Bangsa Papua telah pergi untuk selamanya, tubuhnya dikremasi di Crematorium Rhijnhof Leiden.

I.S.Kijne dan Jopie telah tiada namun Roh dan Jiwa mereka ada di Papua dalam debu yang beterbangan di udara dan dihirup oleh setiap anak Bangsa Papua.

 

.

Mambruk

Sebuah Berita Terkini & Investigasi Di Tanah Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *